BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Dengan mempelajari tentang sarcoptes scabiei ,varietas hominis,pediculus,
kita mengetahui dari penyebab dan cara mengobati dan juga kemungkinan yang
dapat terjadi karena golongan antropoda tersebut.
Dalam pembahasan kali
ini akan mengutarakan dari etiologi ,sampai
dengan epidemiologi dari penyakit tersebut.
B.
Tujuan
Dalam
mempelajari antropoda harapkan
kita dapat mengkaji lebih dalam mengenai antropoda
tersebut dan juga mengetahui kemungkinan yang
terjadi dikarenakan oleh antropoda .
Disamping itu kita mengetahui lebih dalam mengenai golongan antropoda.
BAB II
PEMBAHASAN
SKABIES
A. Definisi Skabies
Skabies atau sering juga disebut penyakit kulit berupa
budukan dapat ditularkan melalui kontak erat dengan orang yang terinfeksi
merupakan penyakit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap kutu
Sarcoptes scabiei var hominis dan tinjanya pada kulit manusia. Sarcoptes
scabiei adalah kutu yang transparan, berbentuk oval, pungggungnya cembung, perutnya
rata dan tidak bermata. Skabies hanya dapat diberantas dengan memutus rantai
penularan dan memberi obat yang tepat. Penyebabnya : Kutu Sarcoptis scabiei
B.
Gambaran klinik dan Epidomologi
Penyakit
skabies memiliki 4 gejala klinis utama, yaitu :
1.
Pruritus nokturna, atau rasa gatal
di malam hari, yang disebabkan aktivitas tungau yang lebih tinggi dalam suhu
lembab.
2.
Penyakit ini dapat menyerang manusia
secara kelompok. Mereka yang tinggal di asrama, barak-barak tentara, pesantren
maupun panti asuhan berpeluang lebih besar terkena penyakit ini. Penyakit ini
amat mudah menular melalui pemakaian handuk, baju maupun seprai secara
bersama-sama. Skabies mudah menyerang daerah yang tingkat kebersihan diri dan
lingkungan masyarakatnya rendah.
3.
Adanya terowongan-terowongan di
bawah lapisan kulit (kanalikuli), yang berbentuk lurus atau berkelok-kelok.
Jika terjadi infeksi skunder oleh bakteri, maka akan timbul gambaran pustul
(bisul kecil). Kanalikuli ini berada pada daerah lipatan kulit yang tipis,
seperti sela-sela jari tangan, daerah sekitar kemaluan (pada anak), siku bagian
luar, kulit sekitar payudara, bokong dan perut bagian bawah.
4.
Menemukan kutu pada pemeriksaan
kerokan kulit secara mikroskopis, merupakan diagnosis pasti penyakit ini
Epidemiologi
Scabies sangat menular dan dapat disebarkan melalui
garukan atau memungut (secara tak sengaja) kemudian tersimpan di bawah kuku
tangan lalu menyentuh kulit orang lain. Mereka juga dapat menyebar ke objek
lainnya seperti keyboard, toilet, pakaian, handuk, selimut, mebel, dan obyek
lain yang bisa membuat scabies keluar dari tubuh seseorang. Namun, parasit ini
cenderung mati jika di luar tubuh manusia selama lebih dari 72 jam.
Scabies dapat selalu siap ditularkan kepada seluruh
anggota suatu rumah tangga, melalui kontak kulit-kulit atau suatu kontak obyek
yang sama dengan orang yang terinfeksi (misalnya tempat tidur mitra,
teman sekolah, dan lain sebagainya). Dapat juga menyebar melalui pakaian,
selimut, atau handuk. Mencuci pakaian di air yang sangat panas dan dikeringkan
dengan panas yang tinggi akan membantu mencegah penularan. Jika pakaian
tidak boleh dicuci, maka dapat menggunakan penyemprotan permethrin.
Biologi
Setelah
perkawinan terjadi diatas kulit manusia, si jantan akan mati atau kadang-kadang
masih hidup dan tinggal dalam terowongan yang dibuat oleh si betina. Tungau
betina yang sudah dibuahi akan menggali terowongan dalam lapisan luar kulit
manusia dengan kecepatan 2-3 mm/ hari dan sambil meletakkan telur 2-4 butir
sehari sampai mencapai 50 buah, telur menetas dalam 3-5 hari dan menjadi larva
yang mempunyai 3 pasang kaki.
Larva
ini dapat hidup di dalam terowongan atau di luar. Larva ini 2-3 hari akan
berubah menjadi nimfa dan mempunyai 2 bentuk jantan dan betina dengan 4 pasang
kaki. Siklus ini terjadi dalam 8-12 hari.
C.
Patologi
Patofisiologi Skabies
Gejala klinis yang di timbulkanoleh S. Scabiei adalh gatal-gatal yang
timbul terutama pada malam hari,yang dapat memgganggu ketenangan tidur.
` Kelainan kulit dapat
disebabkan tidak hanya dari tungau scabies, akan tetapi juga oleh penderita
sendiri akibat garukan. Dan karena bersalaman atau bergandengan sehingga
terjadi kontak kulit yang kuat,menyebabkan lesi timbul pada pergelangan tangan.
Gatal yang terjadi disebabkan leh sensitisasi terhadap secret dan ekskret
tungau yang memerlukan waktu kira-kira sebulan setelah infestasi. Pada saat it
kelainan kulit menyerupai dermatitis dengan ditemuannya papul, vesikel, dan
urtika. Dengan garukan dapat timbul erosi, ekskoriasi, krusta, dan infeksi
sekunder. Kelainan kulit dan gatal yang terjadi dapat lebih luas dari lokasi
tungau.
D. Diagnosis
Ditegakan dari anmnesi manifestasi klinik dan pemeriksaan
penunjang ditemukan 3
dari 4 kriteria sebagai berikut :
1.
Gatal malam hari
2.
Terdapat pada sekelompok orang
3.
Predileksi dan morfologis khas
4.
Ditemukan Tungau S.scabies
E.
Pengobatan
Pengobatan penyakit ini menggunakan obat-obatan berbentuk krim atau salep
yang dioleskan pada bagian kulit yang terinfeksi. Banyak sekali obat-obatan
yang tersedia di pasaran. Namun, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi antara
lain; tidak berbau, efektif terhadap semua stadium kutu (telur, larva maupun
kutu dewasa), tidak menimbulkan iritasi kulit, juga mudah diperoleh dan murah
harganya.
1.
Sistemik
a.
Antihistamin klasik sedatif ringan
untuk mengurangi gatal, misalnya klorfeniramin maleat 0.34 mg/kg BB 3
x sehari.
b.
Antibiotik bila ditemukan infeksi
sekunder misalnya ampisilin, amoksisilin, eritromisin.
2.
Topikal
a.
Obatan-obatan yang dapat digunakan
antara lain :
1)
Salep 2 – 4, biasanya dalam bentuk
salep atau krim. Kekurangannya, obat ini menimbulkan bau tak sedap (belerang),
mengotori pakaian, tidak efektif membunuh stadium telur, dan penggunaannya
harus lebih dari 3 hari berturut-turut.
2)
Emulsi benzil-benzoas 20 – 25%,
efektif terhadap semua stadium, diberikan setiap malam selama 3 hari
berturut-turut. Kekurangannya, dapat menimbulkan iritasi kulit.
3)
Gamexan 1%, termasuk obat pilihan karena
efektif terhadap semua stadium kutu, mudah digunakan, serta jarang menimbulkan
iritasi kulit. Namun obat ini tidak dianjurkan bagi wanita hamil, maupun anak
dibawah usia 6 tahun, karena bersifat toksik terhadap susunan saraf pusat.
Pemakaiannya cukup satu kali dioleskan seluruh tubuh. Dapat diulang satu minggu
kemudian bila belum sembuh.
4)
Krotamiton 10%, termasuk obat
pilihan karena selain memiliki efek anti- skabies, juga bersifat anti gatal.
5)
Permetrin HCl 5%, efektifitasnya
seperti Gamexan, namun tidak terlalu toksik. Penggunaannya cukup sekali, namun
harganya relatif mahal.
b.
Selain menggunakan obat-obatan, yang
tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah upaya peningkatan kebersihan
diri dan lingkungan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara :
1)
Mencuci bersih bahkan sebagian ahli
menganjurkan merebus handuk, seprai maupun baju penderita skabies, kemudian
menjemurnya hingga kering. Menghilangkan faktor predisposisi, antara lain
dengan penyluhan mengenai higiene perorangan dan lingkungan.
2)
Menghindari pemakaian baju, handuk,
seprai secara bersama-sama.
PEDICULUS HUMANUS CAPITIS (KUTU RAMBUT)
A. Definisi
Parasit pada umumnya mempunyai sifat yang tidak baik. Hidupnya menumpang
dan bertempat tinggal di tempat yang ditumpanginya dan merugikan bagi host yang
ditumpanginya.
Peduculosis adalah
gangguan pada rambut kepala yang disebabkan oleh infeksi kutu rambut, yang
disebut Pediculus humanus capitis atau Pediculus hamnus var capitis
(Ph.capitis). Pediculosis telah dikenal sejak jaman
dahulu dan ditemukan kosmopolit (di seluruh dunia).
Kutu rambut ini merupakan
ektroparasit bagi manusia. Tempat-tempat yang disukainya adalah rambut bagian
belakang kepala, yang paling sering menggigit pada bagian belakang kepala dan
kuduk. Gigitannya akan menyebabkan iritasi pada kulit yang disebabkan oleh air
liur yang dikeluarkan pada waktu menghisap darah penderita.
Tiap manusia memiliki
kepekaan yang berlainan. Lesi kutan yang ditimbulkan oleh gigitanPediculus humanus capitis memberikan reaksi yang sangat gatal. Menggaruk besar menambah peradangan
dan karena infeksi sekunder oleh bakteri terbentuklah pustel crusta dan proses
penanahan. Rasa gatal merupakan gejala pertama dan yang paling penting, tanda
bekas garukan merupakan tanda yang khas.
Kutu rambut kepala hidup
berkembang biak pada rambut kepala lebih suka pada rambut yang kotor, lembab,
jarang disisir dan dikeramas. Menginfeksi manusia yang tidak menjaga kebersihan
rambut kepala.
Kutu rambut kepala dapat
bergerak dengan cepat dan mudah berpindah dari satu hospes ke hospes lain.
Mudah ditularkan melalui kontak langsung atau dengan perantara barang-barang
yang dipakai bersama-sama. Misalnya sisir, sikat rambut, topi dan lain-lainnya.
Sangat banyak ditemukan diantara anak sekolah terutama gadis-gadis yang kurang
menjaga kebersihan rambut kepala.
Anak-anak yang tinggal di
pegunungan dengan udara dingin di pagi hari menjadikan enggan atau malas untuk
mandi ataupun mencuci rambut saat mereka bersiap-siap pergi ke sekolah.
Disamping itu kesadaran masyarakat dan orang tua akan kesehatan dan kebersihan
diri anak-anaknya masih tergolong kurang baik. Sebagian besar dari mereka
mengeluh dengan rasa gatal yang hebat pada rambut kepala dan adanya borok.
Akibat garukan pada kulit kepala mereka. Rasa gatal adalah gejala pertama dan
bekas garukan adalah gejala yang khas dari infeksi pediculus humanus capitis.
Pediculus humanus
capitis merupakan ektoparasit
yang menginfeksi manusia, termasuk dalam famili pediculidae yang
penularannya melalui kontak langsung dan dengan perantara barang-barang yang
dipakai bersama-sama. Misalnya : sisir, sikat rambut, topi, dan lain-lain.
Axonomi Phylum : Artropoda, Kelas : Insekta, Ordo : Phthiraptera, Sub Ordo : Anoplura,
Famili : Pediculidae, Genus : Pediculus, Spesies : Pediculus humanus. Capitis.
B. Morfologi
Kutu rambut dewasa
Kutu rambut dewasa
berbentuk pipih dan memanjang, berwarna putih abu-abu, kepala ovoid bersudut,
abdomen terdiri dari 9 ruas, Thorax dari khitir seomennya bersatu. Pada kepala
tampak sepasang mata sederhana disebelah lateral, sepasang antenna pendek yang
terdiri atas 5 ruas dan proboscis, alat penusuk yang dapat memanjang. Tiap ruas
thorax yang telah bersatu mempunyai sepasang kaki kuat yang terdiri dari 5 ruas
dan berakhir sebagai satu sapit menyerupai kait yang berhadapan dengan tinjolan
tibia untuk berpegangan erat pada rambut.
Kutu rambut jantan berukuran 2mm, alat kelamin
berbentuk seperti huruf “V”. Sedangkan kutu rambut betina berukuran 3mm, alat
kelamin berbentuk seperti huruf “V” terbalik. Pada ruas abdomen terakhir
mempunyai lubang kelamin di tengah bagian dorsal dan 2 tonjolan genital di
bagian lateral yang memegang rambut selama melekatkan telur. Jumlah telur yang
diletakkan selama hidupnya diperkirakan 140 butir
1.
Nimfa
Nimfa berbentuk seperti kutu rambut dewasa, hanya bentuknya lebih kecil.
2.
Telur
Telur berwarna putih mempunyai oper culum 0,6-0,8 mm disebut
“nits”. Bentuknya lonjong dan memiliki perekat, sehingga dapat melekat erat
pada rambut. Telur akan menetas menjadi nimfa dalam waktu 5-10 hari.
C. Siklus Hidup dan Epidemiologi
Lingkaran hidup kutu
rambut merupakan metamorfosis tidak lengkap, yaitu telur-nimfa-dewasa. Telur akan menetas menjadi nimfa dalam waktu 5-10
hari sesudah dikeluarkan oleh induk kutu rambut. Sesudah mengalami 3 kali
pergantian kulit, nimfa akan berubah menjadi kutu rambut dewasa dalam waktu
7-14 hari. Dalam keadaan cukup makanan kutu rambut dewasa dapat hidup 27 hari
lamanya.
Epidemiologi
Kutu rambut merupakan
parasit manusia saja dan tersebar di seluruh dunia. Tempat-tempat yang
disukainya adalah rambut pada bagian belakang kepala. Kutu rambut kepala dapat
bergerak dengan cepat dan mudah berpindah dari satu hospes ke hospes lain. Kutu
rambut ini dapat bertahan 10 hari pada suhu 5oc tanpa makan, dapat
menghisap darah untuk waktu yang lama, mati pada suhu 400c. Panas yang
lembang pada suhu 600c memusnahkan telur dalam waktu 15-30 menit.
Kutu rambut kepala mudah ditularkan melalui kontak langsung atau dengan
perantara barang-barang yang dipakai bersama-sama. Misalnya sisir, sikat
rambut, topi dan lain-lain.
Pada infeksi berat,
helaian rambut akan melekat satu dengan yang lainnya dan mengeras, dapat
ditemukan banyak kutu rambut dewasa, telur (nits) dan eksudat nanah yang
berasal dari gigitan yang meradang. Infeksi mudah terjadi dengan kontak
langsung. Pencegahan dilakukan dengan menjaga kebersihan kepala.
D. Patologi dan Gejala Klinik
Lesi pada kulit kepala
disebabkan oleh tusukan kutu rambut pada waktu menghisap darah. Lesi sering ditemukan di belakang kepala atau
kuduk. Air liur yang merangsang menimbulkan papula merah dan rasa gatal yang
hebat.
E. Diagnosis dan Pengobatan
Diagnosis ditegakkan jika
terdapat rasa gatal-gatal yang hebat dengan bekas-bekas garukan dan dipastikan
jika ditemukan Pediculus humanus capitis dewasa, nimfa dan telurnya.
Macam-Macam Pengobatan
Pemberantasan kutu rambut
kepala dapat dilakukan dengan menggunakan tangan, sisir serit atau dengan
pemakaian insektisida golongan klorin (Benzen heksa klorida). Pencegahan
dilakukan dengan menjaga kebersihan rambut kepala. Pada pemeriksaan teknik yang
digunakan yaitu pemeriksaan langsung. Teknik ini merupakan paling mudah
dikerjakan dan waktu yang dibutuhkan sedikit. Keuntungan lain yang tidak
menggunakan reagen yang merusak parasit dan reagen yang digunakan sedikit.
Formalin berfungsi untuk mematikan parasit.
Macam-macam obat untuk Pediculus humanus capitis (Kutu rambut):
1.
Shampo Lidane 1%. Gamma
benzene heksa klorid atau piretrin. Dosis, shampo rambut biarkan 4-10 menit,
kemudian dibilas piretrin. Pakai sampai rambut menjadi basah, biarkan 10 menit kemudian
dibilas. (Tindak lanjut periksa rambut 1 minggu setelah pengobatan untuk telur
dan kutu rambut).
2.
Selep Lindang (BHC 10%) ;
atau bedak DDT 10% atau BHC 1% dalam pyrophylite; atau Benzaos benzylicus
emulsion. Dosis, epala dapat digosok dengan salep Lindane (BHC 1%) atau
dibedaki dengan DDT 10% atau BHC 1% dalam pyrophlite atau baik dengan
penggunaan 3 – 5 gram dari campuran tersebut untuk sekali pemakaian. Bedak itu
dibiarkan selama seminggu pada rambut, lalu rambut dicuci dan disisir untuk melepaskan
telur. Emulsi dari benzyl benzoate ternyata juga berhasil (Brown.H.W, 1983).
3.
Cair / Peditox /
Hexachlorocyclohexane 0,5%. Dosis, osokkan pada rambut dan kepala sampai merata
biarkan semalam kemudian dicuci lalu dikeringkan.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Skabies atau sering juga disebut
penyakit kulit berupa budukan dapat ditularkan melalui kontak erat dengan orang
yang terinfeksi merupakan penyakit yang disebabkan oleh infestasi dan
sensitisasi terhadap kutu Sarcoptes scabiei var hominis dan tinjanya pada kulit
manusia
Peduculosis adalah
gangguan pada rambut kepala yang disebabkan oleh infeksi kutu rambut, yang
disebut Pediculus humanus capitis atau Pediculus hamnus var capitis
(Ph.capitis).
B. Saran
Kesadaran tentang
pentingnya perawatan badan dan rambut perlu ditanamkan baik kepada orang tua
maupun para siswa sendiri. Pengobatan juga harus dilakukan jika siswa sudah
terjangkit yang ditandai dengan rasa gatal-gatal di kepala.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2004. Teori Parasitologi. Semarang: Akademi Analisis
Kesehatan. Universitas Muhamadiyah Semarang.
Brown, H. W, 1983. Dasar Parasitologi
Klinik. Jakarta: PT. Gramedia
Ganda Husada, S, 1992. Parasitologi
Kedokteran. Jakarata: Fakultas
Kedokteran.Cetakan 1. Jakarta: EGC.
Prabu, B.D.R, 1990. Penyakit-penyakit
Infeksi Umum. Edisi I. Jakarta:
Widya Medica.
Soedarto, 1983. Ontemologi
Kedokteran. Surabaya:
Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Airlangga.



0 komentar:
Posting Komentar