Subscribe:

Senin, 01 April 2013

Askep Halusinasi Dengar



HALUSINASI DENGAR

1. MASALAH UTAMA
     Gangguan persepsi sensori: Halusinasi dengar
II. PROSES TERJADINYA MASALAH
A. Pengertian
Halusinasi dengar merupakan persepsi sensoriyang salah terhadap stimulus dengar eksternal yang tidak mampu di identifikasi (Beck dan Wiliam, 1980).
Halusinasi dengar merupakan adanya persepsi sensori pada pendengaran individu tanpa adanya stimulus eksternal yang nyata (Stuart dan Sundeen, 1984).
B. Tanda dan gejala
     Prilaku pasien yang teramati adalah sebagai berikut
1. Melirikan mata ke kiri dan ke kanan seperti mencari siapa atau  apa yang sedang berbicara.
2. Mendengarkan dengan penuh perhatian pada orang lain yang tidak sedang berbicara atau kepada benda mati seperti mebel, tembok dll.
3. Terlibat percakapan dengan benda mati atau dengan seseorang yang tidak tampak.
4. Menggerak-gerakan mulut seperti sedang berbicara atau sedang menjawab suara.
C. Penyebab :
     Isolasi sosial menarik diri
1.     Pengertian
Menarik diri merupakan gangguan dengan menarik diri dan orang lain yang di tandai dengan isolasi diri (menarik diri) dan perawatan diri yang kurang.
2.     Penyebab
a.  Perkembangan
Sentuhan,perhatian,kehangatan dari keluarga yang mengakibatkan individu menyendiri, kemampuan berhubungan dengan klien tidak adekuat yang berakhir dengan menarik diri.
b. Harga diri rendah
3.    Tanda dan gejala
Tanda gejala menarik diri dapat dilihat dari berbagai aspek antara lain
a. Aspek fisik
1)         Penampilan diri kurang.
2)         Tidur kurang.
3)          Keberanian kurang.
b. Aspek emosi
1)               Bicara tidak jelas.
2)               Merasa malu.
3)               Mudah panik.
c. Aspek sosial
1)               Duduk menyendiri
2)               Tampak melamun
3)               Tidak peduli lingkungan
4)               Menghindar dari orang lain
d. Aspek intelektual
1)               Merasa putus asa
2)               Kurang percaya diri

D. Akibat
     Resiko mencederai orang lain dan diri sendiri
1. Pengertian
Suatu keadaan dimana seorang individu melakukan suatu tindakan yang dapat membahayakan keselamatan jiwanya maupun orang lain di sekitarnya (Town send, 1994)
2. Penyebab
a.      Halusinasi
b.     Delusi
3.Tanda dan gejala
a.      Adanya peningkatan aktifitas motorik
b.     Perilaku aktif ataupun destruktif
c.      Agresif

III. POHON MASALAH


Resiko mencederai diri sendiri dan orang lain
 
 
           
IV. MASALAH DAN DATA YANG PERLU DIKAJI
     A. Data Obyektif .
         Apakah klien terdapat tanda dan gejala seperti di bawah ini
1)     Melirikan mata ke kiri dan ke kanan seperti mencari siapa atau apa yang sedang berbicara
2)     Mendengarkan dengan penuh perhatian pada orang lain yang tidak sedang berbicara atau kepada benda mati seperti mebel,tembok dll
3)     Menggerak-gerakan mulut seperti sedang berbicara atau sedang menjawab suara
4)     Tidur kurang/terganggu
5)     Penampilan diri kurang
6)     Keberanian kurang
7)     Bicara tidak jelas
8)     Merasa malu
9)     Mudah panik
10) Duduk menyendiri.
11) Tampak melamun.
12) Tidak peduli lingkungan.
13) Menghindar dari orang lain.
14) Adanya peningkatan aktifitas motorik.
15) Perilaku aktif ataupun destruktif.

B. Data Subyektif
           Pasien mengatakan sering mendengar suara-suara tanpa ada wujud yang tampak.

V. DIAGNOSA KEPERAWATAN
  1. Resiko mencederai diri sendiri dan orang lain berhubungan dengan gangguan persepsi sensori: Halusinasi dengar.
  2. Gangguan persepsi sensori: halusinasi dengar berhubungan dengan adanya isolasi sosial : menarik diri.

VI. FOKUS INTERVENSI .
  1. Diagnosa 1 . Resiko menciderai diri sensiri dan orang lain berhubungan dengan  gangguan sensori : Halusinasi dengar .
TUM      : Klien tidak menciderai orang lain .
TUK       : 1. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan kriteria hasil - Ekspresi wajah bersahabat.
-   Menunjukan rasa senang.
-   Ada kontak mata atau mau jabat tangan.
-   Mau mrnyrbutkan nama.
-   Mau menyebut dan menjawab salam.
-   Mau duduk dan berdampingan dengan perawat.
-   Mau mengutarakan masalah yang dihadapi.
Intervensi:
Bina hubungan saling percaya dengan prinsip komunikasi terapeutik.
a.      Sapa klien dengan ramah baik secara verbal maupun non verbal.
b.     Perkenalkan diri dengan sopan.
c.      Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien.
d.     Jelaskan tujuan pertemuan.
e.      Jujur dan menepati janji.
f.      Tunjukan sikap empati dan terima klien apa adanya.
g.     Beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuan dasar klien.
Rasionalisasi : Hubungan saling percaya merupakan dasar untuk kelancaran hubungan interaksi selanjutnya.

TUK :2. Klien dapat mengenal halusinasi dengan kriteria hasil:
a.      Klien dapat menyebutkan waktu, isi, frekuensi timbulnuya halusinasi.
b.     Klien dapat mengungkapkan perasaanya terhadap halusinasi.
c.      Bantu klien mengenal halusinasinya.
1)     Jika menemukan klien yang sedang halusinasi, tanyakan apa yang sedang terdengar.
2)     Katakan bahwa perawat percaya klien mendengar suara itu namun perawat sendiri tidak melihatnya.
3)     Katakan bahwa klien lain juga yang seperti klien.
4)     Katakan bahwa perawat siap membantu klien.
d.     Diskusikan dengan klien
1)     Situasi yang menimbulkan atau tidak menimbulkan halusinasi.
2)     Waktu dan frekuensinya terjadi halusinasi.
e.      Diskusikan dengan klien apa yang dirasakan jika terjadi halusinasi.

TUK : 3. Klien dapat mengontrol halusinasinya dengan kriteria hasil :
-        Klien dapat menyebutkan tindakan yang dapat dilakukan untuk mengendalikan halusinasinya.
-        Klien dapat menyebutkan cara baru.
-        Klien dapat memilih cara yang telah dipilih untuk mengendalikan halusinasi.
-        Klin dapat mengikuti terapi aktivitas kelompok.
Intervensi:
a.      Identifikasi bersama klien cara yang dilakukan jika terjadi halusinasi.
      Rasional: merupakan upaya untuk memutus siklus halusinasi.
b.     Diskusikan manfaat cara yang digunakan klien, jika bermanfaat beri pujian. Rasional: reinforcement positif dapat meningkatkan harga diri klien.
c.      Diskusikan cara baru untuk mengontrol timbulnya halusinasi.
1)     Katakan “ saya tidak mau dengar kamu”
2)     Menemui orang lain untuk bercakap-cakap.
3)     Melihat jadwal kegiatan sehari-hari agar halusinasi tidak sempat muncul.
4)     Meminta perawat /teman/keluarga untuk menyapa jika klien melamun.
      Rasional: memberi alternative pikiran bagi klien
d.     Bantu klien melatih dan memutus halusinasi secara bertahap. Rasional: Memotivasi dapat meningkatkan keinginan klien untuk mencoba memilih salah satu cara pengendalian halusinasi.
e.      Beri kesempatan untuk melakukan cara yang telah dilatih, evaluasi hasilnya dan beri pujian jika berhasil
f.      Anjurkan klien untuk mengikuti TAK, orientasi realita.
Rasional: Stimulasi persepsi dapat mengurangi perubahan interpretasi realita klien.

TUK : 4. Klien mendapat dukungan keluarga dalam mengontrol halusinasinya dengan kriteria hasil:
-        Klien dapat menjalin hubungan saling percaya dengan perawat
-        Keluarga dapat menyebutkan pengertian, tanda dan tindakan untuk mengendalikan halusinasi
Intervensi:
a.      Anjurkan klien untuk memberi tahu keluarga sedang halusinasi. Rasional: untuk mendapatkan bantuan keluarga dalam mengontrol halusinasi.
b.     Diskusikan dengan keluarga tentang
1). Gejala halusinasi yang dialami klien.
2). Cara yang dapat dilakukan klien dan keluarag untuk memutus halusinasi.
3). Cara merawat anggota keluarga yang halusinasi di rumah, beri kegiatan jangan biarkan sendiri.
4). Beri informasi tentang kapan pasien memerluakn bantuan.
Rasional : Untuk meningkatkan pengetahuan tentang halusinasi.

TUK: 5. Klien memanfaatkan obat dengan baik. Dengan kriteria hasil :
-        Klien dan keluarga mampu menyebutkan manfaat, dosis dan efek samping
-        Klien dapat menginformasikan manfaat dan efek samping obat
-        Klien dapat memahami akibat pemakaina obat tanpa konsultasi
-        Klien dapat menyebutkan prinsip 5 benar pengunaan obat.
Intervensi:
a.      Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang dosis, frekuensi dan manfaat obat.
b.     Anjurkan klien untuk minta sendiri obat pada perawat dan merasakan manfaatnya.
c.      Anjurkan klien bicara dengan dokter tentang manfaat obat dan efek samping obat yang dirasakan.
      Rasional ; dengan mengetahui efek samping obat klien tahu apa yang harus dilakukan setelah minum obat.
d.     Diskusikan bahayanya obat tanpa konsultasi.
      Rasional: Pengobatan dapat berjalan sesuai dengan rencana.
e.      Bantu klien menggunakan prinsip lama benar.
      Rasional: dengan mengetahui prinsip maka kemandirian klien tentang pengobatan dapat ditingkatkan secara bertahap.



   













DAFTAR PUSTAKA

1. Boyd dan Nihart. 1998. Psichiatric Nursing & Contenporary Practice . I Edition .       Lippincot . Philadelphia .

2. Carpenito , Lynda Juall. 1998. Buku Saku Diagnosa Keperawatan . EGC. Jakarta .

3. Schultz dan Videback. 1998. Manual Psychiatric Nursing Care Plan. 5 th Edition . Lippincott. Philadelphia .

4. Keliat , Budi Anna. 1998. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa . EGC. Jakarta.

5. Stuart dan sundeen . 1995. Buku Saku Keperawatan Jiwa . Edisi 3. EGC.Jakarta .

6. Townsend . 1995. Nursing Diagnosis In Psychiatric Nursing a Pocket Guide For Care Plan Construction . Edisi 3 . EGC. Jakarta.


Selasa, 05 Maret 2013

Makalah Ca Mamae



 
BAB 1
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Ca mammae pada wanita menduduki tempat nomor dua setelah carcinoma serviks uteri. Kurva insiden usia bergerak tinggi sejak usia 30 tahun. Kanker jarang ditemukan pada usia di bawah 20 tahun. Angka tertinggi pada usia 45-66 tahun.
Angka kematian akibat kanker payudara mencapai 5 juta pada wanita. Data terakhir menunjukkan bahwa kematian akibat kanker payudara pada wanita menunjukkan angka ke 2 tertinggi penyebab kematian setelah kanker rahim.
Setiap tahun di diagnosis 183.000 kasus baru kanker payudara di amerika serikat. Bukan hanaya kanker payudara saja lebih banyak mengenai wanita dari pada pria. Pada usia 85 satu dari sembilan wanita akan mengalami kanker payudara. Kemampuan pasien yang di diagnosis kanker payudara bertahan hidup masih mencapai 5 tahun sejak awal di diagnosis kanker payudara sekitar 93 %. Jika kanker telah menyebar secara regional saat di diagnosis kemampuan bertahan hidup selama 5 tahun menjadi 72 % dan untuk seseorang dengan metastasis yang luas saat di diagnosis kemampuan bertahan hidupnya hanya 18 %.










 
BAB II
TINJAUAN TEORI


A.    Konsep Kasus
1.     Definisi
Kanker payudara adalah sekelompok sel tidak normal pada payudara yang terus tumbuh berupa ganda. Pada akhirnya sel-sel ini menjadi bentuk bejolan di payudara. Jika benjolan kanker itu tidak dibuang atau terkontrol, sel-sel kanker bisa menyebar (metastase) pada bagian-bagian tubuh lain. Metastase bisa terjadi pada kelenjar getah bening (limfe) ketiak ataupun di atas tulang belikat. Selain itu sel-sel kanker bisa bersarang di tulang, paru-paru, hati, kulit, dan bawah kulit. (Erik T, 2005, hal : 39-40). Suatu keadaan di mana sel kehilangan kemampuannya dalam mengendalikan kecepatan pembelahan dan pertumbuhannya. Normalnya, sel yang mati sama dengan jumlah sel yang tumbuh. Apabila sel tersebut sudah mengalami malignansi/ keganasan atau bersifat kanker maka sel tersebut terus menerus membelah tanpa memperhatikan kebutuhan, sehingga membentuk tumor atau berkembang “tumbuh baru” tetapi tidak semua yang tumbuh baru itu bersifat karsinogen. (Daniele gale 1996).
Carsinoma mammae adalah neoplasma ganas dengan pertumbuhan jaringan mammae abnormal yang tidak memandang jaringan sekitarnya, tumbuh infiltrasi dan destruktif dapat bermetastase ( Soeharto Resko Prodjo, 1995)
Carsinoma mammae merupakan gangguan dalam pertumbuhan sel normal mammae dimana sel abnormal timbul dari sel – sel normal, berkembang biak dan menginfiltrasi jaringan limfe dan pembuluh darah (Lynda Juall Carpenito, 1995).
Stadium kanker payudara :
1. Stadium I : tumor kurang dari 2 cm, tidak ada limfonodus terkena (LN) atau penyebaran luas.
2. Stadium IIa : tumor kurang dari 5 cm, tanpa keterlibatan LN, tidak ada penyebaran jauh. Tumor kurang dari 2 cm dengan keterlibatan LN
3. Stadium IIb : tumor kurang dari 5 cm, dengan keterlibatan LN. Tumor lebih besar dari 5 cm tanpa keterlibatan LN
4. Stadium IIIa : tumor lebih besar dari 5 cm, dengan keterlibatan LN. semua tumor dengan LN terkena, tidak ada penyebaran jauh
5. Stadium IIIb : semua tumor dengan penyebaran langsung ke dinding dada atau kulit semua tumor dengan edema pada tangan atau keterlibatan LN supraklavikular.
6. Stadium IV : semua tumor dengan metastasis jauh.
(Setio W, 2000, hal : 285)
2.     Etiologi
Etiologi kanker payudara tidak diketahui dengan pasti. Namun beberapa faktor resiko pada pasien diduga berhubungan dengan kejadian kanker payudara, yaitu  
a.      Menarche pada usia muda dan kurang dari usia 10 tahun.
b.     Wanita terlambat memasuki menopause (lebih dari usia 60 tahun)
c.      Preparat hormon estrogen
d.     Penggunaan preparat selama atau lebih dari 5 tahun.
e.      Faktor genetik
Kemungkinan untuk menderita kanker payudara 2 – 3 x lebih besar pada wanita yang ibunya atau saudara kandungnya menderita kanker payudara. (Erik T, 2005, hal : 43-46)
f.      Masa reproduksi yang relatif panjang.
3.     Tanda Gejala
Fase awal kanker payudara asimptomatik (tanpa ada tanda dan gejala). Tanda awal yang paling umum terjadi adalah adanya benjolan atau penebalan pada payudara. Kebanyakan  90 % ditemukan oleh wanita itu sendiri, akan tetapi di temukan secra kebetulan, tidak dengan menggunakan pemeriksaan payudara sendiri (sarari), karena itu yayasan kanker menekankan pentingnya melakukan sarari.
Tanda dan gejal lanjut dari kanker payudara  meliputi kulit sekung (lesung), retraksi atau deviasi putting susu, dan nyeri, nyeri tekan atau  rabas khususnya berdarah, dari putting.
Gejala lain yang ditemukan yaitu konsistensi payudara yang keras dan padat, benjolan tersebut berbatas tegas dengan ukuran kurang dari 5 cm, biasanya dalam stadium ini belum ada penyebaran sel-sel kanker di luar payudara. (Erik T, 2005, hal : 42)
4.     Patofisiologi
     Carsinoma mammae berasal dari jaringan epitel dan paling sering terjadi pada sistem duktal, mula – mula terjadi hiperplasia sel – sel dengan perkembangan sel – sel atipik. Sel - sel ini akan berlanjut menjadi carsinoma  insitu dan menginvasi stroma. Carsinoma membutuhkan waktu 7 tahun untuk bertumbuh dari sel tunggal sampai menjadi massa yang cukup besar untuk dapat diraba     ( kira – kira berdiameter 1 cm). Pada ukuran itu kira – kira seperempat dari carsinoma mammae telah bermetastasis. Carsinoma mammae bermetastasis dengan penyebaran langsung ke jaringan sekitarnya dan juga melalui saluran limfe dan aliran darah ( Price, Sylvia, Wilson Lorrairee M, 1995 )










Faktor predisposisi dan resiko tinggi
Hiper plasia pada sel  mammae

 

 

 

 

 

resiko tinggi

Hiper plasia pada sel  mammae
 
PATHWAYS

 






















5.     Pemeriksaan Penunjang
a.    Mammagrafi, yaitu pemeriksaan yang dapat melihat struktur internal dari payudara, hal ini mendeteksi secara dini tumor atau kanker.
b.   Ultrasonografi, biasanya digunakan untuk membedakan tumor sulit dengan kista.
c.    CT. Scan, dipergunakan untuk diagnosis metastasis carsinoma payudara pada organ lain
d.   Sistologi biopsi aspirasi jarum halus
e.    Pemeriksaan hematologi, yaitu dengan cara isolasi dan menentukan sel-sel tumor pada peredaran darah dengan sendimental dan sentrifugis darah. (Michael D, dkk, 2005, hal : 15-66)
6.     Komplikasi
Metastase ke jaringan sekitar melalui saluran limfe (limfogen) ke paru, pleura, tulang dan hati.
7.     Penatalaksanaan
Pembedahan
a.      Mastektomi parsial (eksisi tumor lokal dan penyinaran). Mulai dari lumpektomi sampai pengangkatan segmental (pengangkatan jaringan yang luas dengan kulit yang terkena).
b.     Mastektomi total dengan diseksi aksial rendah seluruh payudara, semua kelenjar limfe dilateral otocpectoralis minor.
c.      Mastektomi radikal yang dimodifikasi
Seluruh payudara, semua atau sebagian besar jaringan aksial
1) Mastektomi radikal
Seluruh payudara, otot pektoralis mayor dan minor dibawahnya : seluruh isi aksial.
     2) Mastektomi radikal yang diperluas
Sama seperti mastektomi radikal ditambah dengan kelenjar limfe mamaria interna.


Non pembedahan
a.      Penyinaran
Pada payudara dan kelenjar limfe regional yang tidak dapat direseksi pada kanker lanjut; pada metastase tulang, metastase kelenjar limfe aksila.
b.     Kemoterapi
Adjuvan sistematik setelah mastektomi; paliatif pada penyakit yang lanjut.
c.      Terapi hormon dan endokrin
Kanker yang telah menyebar, memakai estrogen, androgen, antiestrogen, coferektomi adrenalektomi hipofisektomi.
(Smeltzer, dkk, 2002, hal : 1596 - 1600)



















B.    KONSEP KEPERAWATAN
1.        Pengkajian
a.     Identitas
Didalam identitas meliputi
Identitas pasien :
Nama         
Umur         
Agama       
Jenis Kelamin       
Pendidikan
Pekerjaan   
Suku Bangsa          
Alamat       
Tanggal Masuk     
Tanggal Pengkajian
No. Register          
Diagnosa Medis    
Identitas penanggung jawab :
Nama         
Umur         
Hub. Dengan Ps     
Pekerjaan   
Alamat
b.     Riwayat Kesehatan
1)     Keluhan Utama
Riwayat keluhan utama meliputi : adanya benjolan yang menekan payudara, adanya ulkus, kulit berwarna merah dan mengeras, bengkak, nyeri.
2)     Riwayat Penyakit Dahulu
Apakah pasien pernah mengalami penyakit yang sama sebelumnya.
Apakah ada keluarga yang menderita penyakit yang sama .
3)     Riwayat Penyakit Sekarang
Tanda awal yang paling umum terjadi adalah adanya benjolan atau penebalan pada payudara. Kebanyakan  90 % ditemukan oleh wanita itu sendiri, akan tetapi di temukan secara kebetulan, tidak dengan menggunakan pemeriksaan payudara sendiri (sarari), karena itu yayasan kanker menekankan pentingnya melakukan sarari.
Tanda dan gejal lanjut dari kanker payudara  meliputi kulit sekung (lesung), retraksi atau deviasi putting susu, dan nyeri, nyeri tekan atau  rabas khususnya berdarah, dari putting.
Gejala lain yang ditemukan yaitu konsistensi payudara yang keras dan padat, benjolan tersebut berbatas tegas dengan ukuran kurang dari 5 cm, biasanya dalam stadium ini belum ada penyebaran sel-sel kanker di luar payudara. (Erik T, 2005, hal : 42).
4)     Riwayat Kesehatan Keluarga
Apakah dalam kesehatan keluarga ada yang pernah menderita ca mammae atau sakit yang lainnya.
5)     Riwayat Psikososial
Psikososial sangat berpengaruh sekali terhadap psikologis pasien, dengan timbul gejala-gejala yang alami, apakah pasien dapat menerima pada apa yang dideritanya.
6)     Pola-Pola Fungsi Kesehatan
a)     Pola nutrisi dan metabolism
Adanya mual dan muntah, penurunan nafsu makan selama sakit, lidah kotor, dan rasa pahit waktu makan sehingga dapat mempengaruhi status nutrisi berubah.
b)     Pola aktifitas dan latihan
Pasien akan terganggu aktifitasnya akibat adanya kelemahan fisik serta pasien akan mengalami keterbatasan gerak akibat penyakitnya.
c)      Pola tidur dan aktifitas
Kebiasaan tidur pasien akan terganggu dikarenakan nyeri yang dirasakan meningkat, sehingga pasien merasa gelisah pada waktu tidur.
d)      Pola eliminasi
Kebiasaan dalam buang BAK akan terjadi retensi bila dehidrasi karena panas yang meninggi, konsumsi cairan yang tidak sesuai dengan kebutuhan.
7)     Pemeriksaan Fisik
a)  Keadaan umum
Biasanya pada pasien ca mammae mengalami badan lemah, pucat, mual, perut tidak enak, anorexia, berat badan turun, kulit keriput.
b)  Kepala dan leher
Kepala tidak ada bernjolan, rambut rontok, kelopak mata normal, konjungtiva anemis, mata cowong, muka tidak odema, pucat/bibir kering, lidah kotor, fungsi pendengran normal leher simetris, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid.
c)  Abdomen
Didaerah abdomen ditemukan nyeri tekan, terdengar bising usus.
d)  Sistem respirasi
Pernafasan normal, tidak ada suara tambahan, dan tidak terdapat cuping hidung.
e)  Sistem kardiovaskuler
Biasanya pada pasien dengan ca mammae yang ditemukan tekanan darah yang meningkat akan tetapi bisa didapatkan tachiardi saat pasien mengalami peningkatan suhu tubuh.
f)   Sistem integument
Kulit kotor, turgor kulit menurun, pucat, berkeringat banyak, akral hangat.
g)  Sistem eliminasi
Pada pasien ca mammae eliminasi normal.
h)  Sistem muskuloskolesal
Apakah ada gangguan pada extrimitas atas dan bawah atau tidak ada gangguan.
i)   Sistem endokrin
Apakah di dalam penderitaca mammae ada pembesaran kelenjar toroid dan tonsil.
j)   Sistem persyarafan
Apakah kesadarn itu penuh atau apatis, somnolen dan koma, dalam penderita penyakit ca mammae.
2.        DIAGNOSA KEPERAWATAN
a.      Nyeri  berhubungan dengan agen injuri biologis
b.      Pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia
c.      Kerusakan inehritas kulit berhubungan dengan
d.      Cemas berhubungan dengan radiasi sinar X
e.      Kurang pengetahuan berhungan dengan kurangnya kemauan untuk mencari informasi
f.       Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif
3.        INTERVENSI
a.       Nyeri akut  berhubungan dengan agen injuri biologis
Tujuan : Nyeri teratasi.
Kriteria Hasil :
1)   Klien mengatakan nyeri berkurang atau hilang
2)   Nyeri tekan tidak ada
3)   Ekspresi wajah tenang
4)   Luka sembuh dengan baik
Intervensi :
1)  Kaji karakteristik nyeri, skala nyeri, sifat nyeri, lokasi dan penyebaran.
Rasional : Untuk mengetahui sejauhmana perkembangan rasa nyeri yang dirasakan oleh klien sehingga dapat dijadikan sebagai acuan untuk intervensi selanjutnya.
2)  Beri posisi yang menyenangkan.
Rasional :Dapat mempengaruhi kemampuan klien untuk rileks/istirahat secara efektif dan dapat mengurangi nyeri.
3)  Anjurkan teknik relaksasi napas dalam.
Rasional : Relaksasi napas dalam dapat mengurangi rasa nyeri dan memperlancar sirkulasi O2 ke seluruh jaringan.
4)  Ukur tanda-tanda vital
Rasional : Peningkatan tanda-tanda vital dapat menjadi acuan adanya peningkatan nyeri.
5)  Penatalaksanaan pemberian analgetik
Rasional : Analgetik dapat memblok rangsangan nyeri sehingga dapat nyeri tidak dipersepsikan.
b.     Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan  anoreksia
Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria Hasil :
1)      Nafsu makan meningkat
2)      Klien tidak lemah
3)      Hb normal (12 – 14 gr/dl)
Intervensi :
1)  Kaji pola makan klien
Rasional : Untuk mengetahui kebutuhan nutrisi klien dan merupakan asupan dalam tindakan selanjutnya.
2)  Anjurkan klien untuk makan dalam porsi kecil tapi sering
Rasional : dapat mengurangi rasa kebosanan dan memenuhi kebutuhan nutrisi sedikit demi sedikit.
3)  Anjurkan klien untuk menjaga kebersihan mulut dan gigi.
Rasional : agar menambah nafsu makan pada waktu makan.
4)  Anjurkan untuk banyak makan sayuran yang berwarna hijau.
Rasional : sayuran yang berwarna hijau banyak mengandung zat besi penambah tenaga.
5)  Libatkan keluarga dalam pemenuhan nutrisi klien
Rasional : partisipasi keluarga dpat meningkatkan asupan nutrisi untuk kebutuhan energi.
                 6) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antasida dan nutrisi                 parenteral.
    Rasional: antasida mengurangi rasa mual dan muntah.
c.      Gangguan body image berhubungan dengan penyakit yanag dideritanya
Tujuan : Klien dapat menerima keadaan dirinya.
Kriteria Hasil :
1)  Klien tidak malu dengan keadaan dirinya.
2)  Klien dapat menerima efek pembedahan
Intervensi:
1) Diskusikan dengan klien atau orang terdekat respon klien terhadap penyakitnya.
     Rasional : membantu dalam memastikan masalah untuk memulai proses pemecahan masalah
2) Tinjau ulang efek pembedahan
Rasional : bimbingan antisipasi dapat membantu pasien memulai proses adaptasi.
3) Berikan dukungan emosi klien.
     Rasional : klien bisa menerima keadaan dirinya.
4) Anjurkan keluarga klien untuk selalu mendampingi klien.
Rasional : klien dapat merasa masih ada orang yang memperhatikannya.
d.       Cemas berhubungan dengan penyakit yang dialaminya
  Tujuan : : Kecemasan dapat berkurang.
  Kriteria hasil :
1)   Klien tampak tenang
2)   Mau berpartisipasi dalam program terapi
Intervensi :
1) Dorong klien untuk mengekspresikan perasaannya.
Rasional : Proses kehilangan bagian tubuh membutuhkan penerimaan, sehingga pasien dapat membuat rencana untuk masa depannya.
2) Diskusikan tanda dan gejala depresi.
Rasional : Reaksi umum terhadap tipe prosedur dan kebutuhan dapat dikenali dan diukur.
3) Diskusikan tanda dan gejala depresi
Rasional : Kehilangan payudara dapat menyebabkan perubahan gambaran diri, takut jaringan parut, dan takut reaksi pasangan terhadap perubahan tubuh.
4) Diskusikan kemungkinan untuk bedah rekonstruksi atau pemakaian prostetik.
     Rasional : Rekonstruksi memberikan sedikit penampilan yang lengkap, mendekati normal.
e.  Kurang pengetahuan berhungan dengan kurangnya kemauan untuk         mencari informasi
     Tujuan: Klien mengerti tentang penyakitnya.
     Kriteria hasil:
1)     Klien tidak menanyakan tentang penyakitnya.
2)     Klien dapat memahami tentang proses penyakitnya dan pengobatannya.
Intervensi :
1)  Jelaskan tentang proses penyakit, prosedur pembedahan dan harapan yang akan datang.
      Rasional : Memberikan pengetahuan dasar, dimana pasien dapat membuat pilihan berdasarkan informasi, dan dapat berpartisipasi dalam program terapi.
2) Diskusikan perlunya keseimbangan kesehatan, nutrisi, makanan dan  pemasukan cairan yang adekuat.
Rasional : Memberikan nutrisi yang optimal dan mempertahankan volume sirkulasi untuk mengingatkan regenerasi jaringan atau proses penyembuhan.
3) Anjurkan untuk banyak beristirahat dan membatasi aktifitas yang berat.
      Rasional : Mencegah membatasi kelelahan, meningkatkan penyembuhan, dan meningkatkan perasaan sehat.
4)  Anjurkan untuk pijatan lembut pada insisi/luka yang sembuh dengan minyak.
      Rasional : Merangsang sirkulasi, meningkatkan elastisitas kulit, dan menurunkan ketidaknyamanan sehubungan dengan rasa pantom payudara.
5) Dorong pemeriksaan diri sendiri secara teratur pada payudara yang masih ada. Anjurkan untuk Mammografi.
Rasional : Mengidentifikasi perubahan jaringan payudara yang mengindikasikan terjadinya / berulangnya tumor baru.
f.   Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif
Tujuan :  Tidak terjadi infeksi.
Kriteria Hasil :
1)  Tidak ada tanda – tanda infeksi.
2)  Luka dapat sembuh dengan sempurna
Intervensi :
1) Kaji adanya tanda – tanda infeksi.
Rasional : Untuk mengetahui secara dini adanya tanda – tanda infeksi sehingga dapat segera diberikan tindakan yang tepat.
2) Lakukan pencucian tangan sebelum dan sesudah prosedur tindakan.
Rasional : Menghindari resiko penyebaran kuman penyebab infeksi.
3) Lakukan prosedur invasif secara aseptik dan antiseptik.
Rasional : Untuk menghindari kontaminasi
Rasional : Menghambat perkembangan kuman sehingga tidak terjadi proses infeksi
g.     Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan radiasi sinar X
Tujuan:  kerusakan integritas kulit teratasi.
Kriteria hasil:
1.     Temperatur jaringan  tubuh sesuai yang di harapkan
2.     Sensasi kulit sesuai yang diharapkan
3.     Hidrasi kulit sesuai yang diharapkan
4.     Bebas dari lesi jaringan
5.     Pertumbuhan rambut pada kulit
INTERVENSI
1)     Hindari kerutan pada tempat tidur
Rasional :menjaga timbulnya lesi baru
2)     Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering
Rasional : menghindari dari infeksi
3)     Monitor kulit akan adanya kemerahan
Rasional : untuk mengetahui adanya tanda iritasi yang melebar
4)     Mobilisasi fisik
Rasional: membantu untuk sirkulasi udara supatatidak lembab.














 
BAB III
TINJAUAN KASUS

A.  Pengkajian
1.     Identitas Pasien
Pada pengkajian tanggal 14 Februari 2013 pukul 08.00 WIB Pasien dengan nama Ny.W dengan umur 30  tahun berjenis kelamin perempuan .Ny. W beralamatkan di Desa Tritih, dirinya asli suku jawa, Indonesia yang taat beribadah agama islam, pekerjaan sebagai buruh, pendidikannya sampai jenjang SMA. Pasien masuk pada tanggal13 februari 2013 dengan  diagnosa dari dokter terkena penyakit Ca mammae. Karena bekerja sebagai buruh, dengan upah yang belum memedai maka biaya sakitnya ditanggung oleh Tn. S umur 40 tahun seorang laki-laki. Dirinya adalah seorang kakak dari pasien yang tinggal serumah dengan dirinya bekerja sebagai petani.
2.     Riwayat Keperawatan
Pasien dirumah mengeluh nyeri di bagain payu dara sebelah kiri, dan merasakan terdapat benjolan di payu daranya sejak 2 tahun yang lalu, tidak hanya itu saja yang dirasakan, ada juga keluhan yang lainya yaitu, pusing, nafsu makan juga menurun, dan berat badanya juga menurun. Awalnya mengira itu hanya sakit biasa - biasa saja dan berusaha mengobatinya dengan obat seadanya, separti obat warung ( bodrex, paramex dll).
Tetapi lambat laun ternyata tidak ada perubahan yang ada justru benjolan yang di payudara tambah besar. Akhirnya pasien membawa dirinya ke RSMS bersama keluarga dan kerabat terdekatnya untuk berobat tepatnya pada tanggal 12 februari 2013 jam 11.00 tiba di IGD RSMS. Di IGD di lakukan pemeriksaan fisik dengan hasil: TD 110/ 90 mmHg, N 82 kali/ menit, RR 24 kali/ menit, S 36,4O C, payu dara terdapat benjolan. Kemudian di rawat di bangsal rawat inap teratai.
Pasien mengatakan sebelumnya sudah di rawat di RSMS, untuk pengobatan penyakitnya, pasien menjalani kemoterapi.Kedatangan untuk yang sekarang ini bermaksud untuk program kemoterapi yang berikutnya.
3.     Pola Fungsional Kesehatan
Pasien mengatakan jika sakit membawanya ke Dokter karena kesehatan merupakan hal yang penting dalam hidupnya, saat sakit pasien dapat makan hanya 2 kali seharai dan habis 1/3  porsi, BAB 2x dalam sehari dengan konsistensi lembek, tidak ada darah ketika BAB, BAK lancar 3-4 kali sehari, warna jernih,  tidak  disertai darah, aktivitas di bantu oleh orang lain dari mulai makan, minum, mandi, toeliting, berpindah serta berpakaian. Pasien  mengatakan sabar dan tabah dengan penyakit yang diderinyanya karena hal tersebut merupakn cobaan dari alloh swt.
Selama sakit pasien tidur dengan nyeyak, tidur 7-8  jam dalam sehari. Hubungan dengan keluarga, kerabat- kerabatnya baik, terbukti banyak yng menjenguk selama di rawat di RSMS. Pasien taat beribdah kepada alloh swt, sholat 5 waktu dan berdoa untuk kesembuhan penyakit yang di deritanya.
4.     Pemeriksaan Fisik
Pasien Ny.W dengan keadaan umum baik, kesadaran composmetis, GCS( E4M6V5 ), TD 110/90 mmHg, Nadi 82 x/menit, RR 24 x/menit, Suhu 36,3 oC  dengan ciri-ciri bentuk kepala mesochepal,rambut rontok. Mata : konjungtiva anemis, hidung tidak ada serumen, telinga tidak terdapat serumen, mukosa bisir kering, tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, kulit berkeriput. Akral hangat, terpasang infus RL 20 tpm pada ektremitas atas kiri, tidak terdapat udema
Pada pemeriksaan thorak didapat hasil,
a.    Paru
Inspeksi: dinding dada simetris
Palpasi : taktil fremitus
Perkusi : sonor
Auskultasi : resonan
b.   Jantung
Inspeksi: tidak terlihat ictus cordis
Palpasi: teraba ictus cordis
Perkusi: pekak
Auskultasi: vesikuler
c.    Abdomen
Inspeksi : simetris
Auskultasi: terdengar bunyi usus 18x per menit
Palpasi: tidak terdapat nyeri tekan
Perkusi: timapani
d.   Payudara
    Terdapat benjolan di payu dara sebelah kiri,kulit mengelupas, terdapat lesi berwaran hitam kecoklatan post kemoterapi.
5.     Program terapi
Mendapat program terapi ranitidine 2x25mg/hari, cetorolac 2x5 mg/hari, mertonidazol 500 mg drip, program kemoterapi untuk tanggal 15 Februari 2013, infus RL 20 tpm
6.     Hasil Pemeriksaan
Pemeriksaan laboratorium darah dengan hasil pada tanggal 14 Februari 2013 pukul 09,13 WIB dengan hasil Hb 9,1 g/dl (11,5-13,5); hematokrit 28 % (42-52); leukosit 5800 u/L(4.800-10.800); eritrosit 4,5u/L (4.7-6.7);trombosit 154.000 u/L(154.000-450.000); SGOT   H 23 u/L (15-37 u/L); SGPT L 33 u/L ( 30-65 u/L); MCHC 33,4 %(33,0-37,0); MCV 93,8 fl (79,0-99,0); MCH  29,3 pg(27,0-31,0).











B.  Analisa Data dan Perumusan Diagnosa Keperawatan
1.   Analisis data
No.
Hari/Tgl
Data Fokus
Etiologi
Problem
1.














2.












3.
Kamis 14  februari 2013












DS :
Pasien mengatakan nyeri di payudara sebelah kiri sejak 2 tahun yang lalu
DO:
P : ca mammae
Q : seperti di tusuk-tusuk
R : payudara sebelah kiri
S : skala nyeri 7
T: hilang timbul, selama 5     menit
Pasien terlihat menahan nyeri
TD  :110/ 90 mmHg
 N    : 82 kali/ menit,
 RR  : 24 kali/ menit,
  S    : 36,4O C,

DS :
Pasien mengatakan nafsu makan menurun
DO :
Makan habis 1/3 porsi dari diit RS
Mukosa bibir kering, pasien lemah,
mual – mual, berat badab turun dari 45 menjadi 35 kg, Hb 9,1 gr/dl
TD  :110/ 90 mmHg
 N    : 82 kali/ menit,
 RR  : 24 kali/ menit,
  S    : 36,4O C

DS : -
DO :
Terdapat lesi di payudara sebelah kiri, terlihat kemerahan, kulit mengelupas dan keriput.

Agen Injuri biologis












Anoreksia












Radiasi sinar X
Nyeri kronis














Nutris kurang dari kebutuhan tubuh









Kerusakan integritas kulit







2.     Perumusan Diagnosa Keperawatan
a)   Nyeri kronis  berhubungan dengan agen injuri biologisi ditandai dengan pasien terlihat kesakitan
b)   Kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia ditandai dengan makan habis 1/3 porsi dari diit RS, mukosa bibir kering, pasien lemah, mual – mual, berat badab turun dari 45 menjadi 35 kg, Hb 9.1 gr/dl.
c)   Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan radiasi sinar X di tandai dengan Terdapat lesi di payudara sebelah kiri, terlihat kemerahan, kulit mengelupas dan keriput.










3. Intervensi, Implementasi, Evaluasi
HARI PERTAMA (Kamis 14 februari 2013)
DIAGNOSA 1
Nyeri kronis  berhubungan dengan agen injuri biologisi ditandai dengan pasien terlihat menahan nyeri
TUJUAN
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan Masalah keperawatan nyeri dapat teratasi, dengan kriteria hasil  
1.      Klien mengatakan nyeri berkurang atau hilang
2.      Nyeri tekan tidak ada
3.      Ekspresi wajah tenang
4.      Luka sembuh dengan baik
INTERVENSI
1)  Kaji karakteristik nyeri, skala nyeri, sifat nyeri, lokasi dan penyebaran.
Rasional : Untuk mengetahui sejauh mana perkembangan rasa nyeri yang dirasakan oleh klien sehingga dapat dijadikan sebagai acuan untuk intervensi selanjutnya.
2)  Beri posisi yang menyenangkan.
Rasional :Dapat mempengaruhi kemampuan klien untuk rileks/istirahat secara efektif dan dapat mengurangi nyeri.
3)  Anjurkan teknik relaksasi napas dalam.
Rasional : Relaksasi napas dalam dapat mengurangi rasa nyeri dan memperlancar sirkulasi O2 ke seluruh jaringan.
4)  Ukur tanda-tanda vital
Rasional : Peningkatan tanda-tanda vital dapat menjadi acuan adanya peningkatan nyeri.
5)  Penatalaksanaan pemberian analgetik
Rasional : Analgetik dapat memblok rangsangan nyeri sehingga dapat nyeri tidak dipersepsikan.


IMPLEMENTASI :
Mengkaji skala nyeri, memberikan posisi yang nyaman, mengejarkan tekhnik relaksasi, mengukur TD, S, N, RR, memberikan obat cetorolac 5 mg 2x1sehari.
EVALUASI :
S : pasien mengatakan masih nyeri
O : pasien terlihat kesakitan
    P : ca mammae
Q : seperti di tusuk-tusuk
R : payudara sebelah kiri
S : skala nyeri 7
T: hilang timbul, selama  5 menit
TD  :110/ 90 mmHg, N : 82 kali/ menit,  RR  : 24 kali/ menit,  S : 36,4O C,
A : masalah keperawatan nyeri akut belum teratasi
P : lanjutkan intervensi
1.     Beri posisi yang menyenangkan
2.     Anjurkan teknik relaksasi napas dalam
3.     Ukur tanda-tanda vital
4.     Penatalaksanaan pemberian analgetik
DIAGNOSA 2
Kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia ditandai dengan dengan makan habis 1/3 porsi dari diit RS, mukosa bibir kering, pasien lemah, mual – mual, berat badan turun dari 45 menjadi 35 kg, Hb 9,1 gr/dl.
TUJUAN :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan Masalah keperawatan Kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, nutrisi terpenuhi.
Kriteria Hasil :
1)    Nafsu makan meningkat
2)    Klien tidak lemah
3)      Hb normal (12 – 14 gr/dl)
             INTERVENSI
1)  Kaji pola makan klien
Rasional : Untuk mengetahui kebutuhan nutrisi klien dan merupakan asupan dalam tindakan selanjutnya.
2)  Anjurkan klien untuk makan dalam porsi kecil tapi sering
Rasional : dapat mengurangi rasa kebosanan dan memenuhi kebutuhan nutrisi sedikit demi sedikit.
3)  Anjurkan klien untuk menjaga kebersihan mulut dan gigi.
Rasional : agar menambah nafsu makan pada waktu makan.
4)  Anjurkan untuk banyak makan sayuran yang berwarna hijau.
Rasional : sayuran yang berwarna hijau banyak mengandung zat besi penambah tenaga.
5)  Libatkan keluarga dalam pemenuhan nutrisi klien
Rasional : partisipasi keluarga dpat meningkatkan asupan nutrisi untuk kebutuhan energi.
                 6) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antasida dan nutrisi                 parenteral.
    Rasional: antasida mengurangi rasa mual dan muntah.
IMPLEMENTASI
Mengkaji pola makan pasien, menganjurkan klien untuk menjaga kebersihan mulut dan gigi, menganjurkan untuk makan sedikit tapi sering, kolaborasi denag dokter dakam pemberian antasida 500 g 2x1 sehari.
EVALUASI :
S : pasien mengatakan nafsu makan menurun,
O : Makan habis 1/3 porsi dari diit RS, Mukosa bibir kering, pasien lemah, mual– mual, berat badab turun dari 45 menjadi 35 kg, Hb 9,1 gr/dl, TD  :110/ 90 mmHg,  N: 82 kali/ menit, RR  : 24 kali/ menit, S: 36,4O C
A : masalah keperawatan Kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh belum teratasi.

P : lanjutkan intervensi
1.      Anjurkan klien untuk makan dalam porsi kecil tapi sering
2.      Anjurkan klien untuk menjaga kebersihan mulut dan gigi.
3.      Anjurkan untuk banyak makan sayuran yang berwarna hijau.
4.      Libatkan keluarga dalam pemenuhan nutrisi klien
5.     Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antasida dan nutrisi                 parenteral.
DIAGNOSA 3
Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan radiasi sinar X di tandai dengan Terdapat lesi di payudara sebelah kiri, terlihat kemerahan, kulit mengelupas dan keriput.
TUJUAN
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan masalah keperawatan kerusakan integritas kulit teratasi.
Kriteria hasil:
1.     Temperatur jaringan  tubuh sesuai yang di harapkan
2.     Sensasi kulit sesuai yang diharapkan
3.     Hidrasi kulit sesuai yang diharapkan
4.     Bebas dari lesi jaringan
5.     Pertumbuhan rambut pada kulit
INTERVENSI
1)     Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar
Rasional : untuk menghindari gesekan antar kulit dan baju
2)     Hindari kerutan pada tempat tidur
Rasional :menjaga timbulnya lesi baru
3)     Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering
Rasional : menghindari dari infeksi
4)     Monitor kulit akan adanya kemerahan
Rasional : untuk mengetahui adanya tanda iritasi yang melebar
5)     Mobilisasi fisik
Rasional: membantu untuk sirkulasi udara supatatidak lembab.
IMPLEMENTASI
Menganjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar, mengindari kerutan pada tempat tidur, menjaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering, memonitor kulit akan adanya kemerahan,  memobilisasi fisik.
EVALUASI :
S : -
O : Terdapat lesi di payudara sebelah kiri, terlihat kemerahan, kulit mengelupas dan keriput.
A : Masalah keperawatan gangguann integritas kulit belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
1.     Hindari kerutan pada tempat tidur
2.     Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering
3.     Monitor kulit akan adanya kemerahan
4.     Mobilisasi fisik

















            HARI KE DUA ( Jum’at 15 february 2013)
DIAGNOSA 1
Nyeri kronis  berhubungan dengan agen injuri biologisi ditandai dengan pasien terlihat menahan nyeri
TUJUAN
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan Masalah keperawatan nyeri dapat teratasi, dengan kriteria hasil  
1.      Klien mengatakan nyeri berkurang atau hilang
2.      Nyeri tekan tidak ada
3.      Ekspresi wajah tenang
4.      Luka sembuh dengan baik
INTERVENSI
1)       Beri posisi yang menyenangkan.
       Rasional :Dapat mempengaruhi kemampuan klien untuk rileks/istirahat secara efektif dan dapat mengurangi nyeri.
2)       Anjurkan teknik relaksasi napas dalam.
       Rasional : Relaksasi napas dalam dapat mengurangi rasa nyeri dan memperlancar sirkulasi O2 ke seluruh jaringan.
3)       Ukur tanda-tanda vital
       Rasional : Peningkatan tanda-tanda vital dapat menjadi acuan adanya peningkatan nyeri.
4)       Penatalaksanaan pemberian analgetik
       Rasional : Analgetik dapat memblok rangsangan nyeri sehingga dapat nyeri tidak dipersepsikan.
IMPLEMENTASI :
Memberikan posisi yang nyaman, mengejarkan tekhnik relaksasi, mengukur TD, S, N, RR, memberikan obat cetorolac 5 mg 2x1sehari.
EVALUASI :
S : pasien mengatakan masih nyeri
O : pasien terlihat kesakitan
    P : ca mammae
Q : seperti di tusuk-tusuk
R : payudara sebelah kiri
S : skala nyeri 6
T: hilang timbul, selama  5 menit
TD  :110/ 90 mmHg, N : 82 kali/ menit,  RR  : 24 kali/ menit,  S : 36,4O C,
A : masalah keperawatan nyeri akut belum teratasi
P : lanjutkan intervensi
1.     Beri posisi yang menyenangkan
2.     Anjurkan teknik relaksasi napas dalam
3.     Ukur tanda-tanda vital
4.     Penatalaksanaan pemberian analgetik
DIAGNOSA 2
Kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia ditandai dengan dengan makan habis 1/3 porsi dari diit RS, mukosa bibir kering, pasien lemah, mual – mual, berat badan turun dari 45 menjadi 35 kg, Hb 9,1 gr/dl.
TUJUAN :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan Masalah keperawatan Kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, nutrisi terpenuhi.
Kriteria Hasil :
1)      Nafsu makan meningkat
2)      Klien tidak lemah
3)      Hb normal (12 – 14 gr/dl)
             INTERVENSI
1)  Anjurkan klien untuk makan dalam porsi kecil tapi sering
Rasional : dapat mengurangi rasa kebosanan dan memenuhi kebutuhan nutrisi sedikit demi sedikit
2)  Anjurkan klien untuk menjaga kebersihan mulut dan gigi.
Rasional : agar menambah nafsu makan pada waktu makan.
3)  Anjurkan untuk banyak makan sayuran yang berwarna hijau.
Rasional : sayuran yang berwarna hijau banyak mengandung zat besi penambah tenaga.
4)  Libatkan keluarga dalam pemenuhan nutrisi klien
Rasional : partisipasi keluarga dpat meningkatkan asupan nutrisi untuk kebutuhan energi.
                 5) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antasida dan nutrisi                 parenteral.
    Rasional: antasida mengurangi rasa mual dan muntah.
IMPLEMENTASI
Menganjurkan klien untuk menjaga kebersihan mulut dan gigi, menganjurkan untuk makan sedikit tapi sering, kolaborasi denag dokter dakam pemberian antasida 500 g 2x1 sehari.
EVALUASI :
S : pasien mengatakan nafsu makan menurun,
O : Makan habis 1/3 porsi dari diit RS, Mukosa bibir kering, pasien lemah, mual– mual, berat badab turun dari 45 menjadi 35 kg, Hb 9,1 gr/dl, TD  :110/ 90 mmHg,  N: 82 kali/ menit, RR  : 24 kali/ menit, S: 36,4O C
A : masalah keperawatan Kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh belum teratasi.
P : lanjutkan intervensi
1.      Anjurkan klien untuk makan dalam porsi kecil tapi sering
2.      Anjurkan klien untuk menjaga kebersihan mulut dan gigi.
3.      Anjurkan untuk banyak makan sayuran yang berwarna hijau.
4.      Libatkan keluarga dalam pemenuhan nutrisi klien
5.      Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antasida dan nutrisi                 parenteral.





DIAGNOSA 3
Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan radiasi sinar X di tandai dengan Terdapat lesi di payudara sebelah kiri, terlihat kemerahan, kulit mengelupas dan keriput.
TUJUAN
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan masalah keperawatan kerusakan integritas kulit teratasi.
Kriteria hasil:
6.     Temperatur jaringan  tubuh sesuai yang di harapkan
7.     Sensasi kulit sesuai yang diharapkan
8.     Hidrasi kulit sesuai yang diharapkan
9.     Bebas dari lesi jaringan
10.  Pertumbuhan rambut pada kulit
INTERVENSI
5)     Hindari kerutan pada tempat tidur
Rasional :menjaga timbulnya lesi baru
6)     Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering
Rasional : menghindari dari infeksi
7)     Monitor kulit akan adanya kemerahan
Rasional : untuk mengetahui adanya tanda iritasi yang melebar
8)     Mobilisasi fisik
Rasional: membantu untuk sirkulasi udara supatatidak lembab.
IMPLEMENTASI
Mengindari kerutan pada tempat tidur, menjaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering, memonitor kulit akan adanya kemerahan,  memobilisasi fisik.
EVALUASI :
S : -
O : Terdapat lesi di payudara sebelah kiri, terlihat kemerahan, kulit    mengelupas dan keriput.

A : Masalah keperawatan gangguann integritas kulit belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
1.     Hindari kerutan pada tempat tidur
2.     Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering
3.     Monitor kulit akan adanya kemerahan
4.     Mobilisasi fisik

























HARI KE TIGA ( Sabtu, 16 february 2013)
DIAGNOSA 1
Nyeri kronis  berhubungan dengan agen injuri biologis ditandai dengan pasien terlihat menahan nyeri
TUJUAN
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan Masalah keperawatan nyeri dapat teratasi, dengan kriteria hasil  
1.      Klien mengatakan nyeri berkurang atau hilang
2.      Nyeri tekan tidak ada
3.      Ekspresi wajah tenang
4.      Luka sembuh dengan baik
INTERVENSI
1)       Beri posisi yang menyenangkan.
       Rasional :Dapat mempengaruhi kemampuan klien untuk rileks/istirahat secara efektif dan dapat mengurangi nyeri.
2)       Anjurkan teknik relaksasi napas dalam.
       Rasional : Relaksasi napas dalam dapat mengurangi rasa nyeri dan memperlancar sirkulasi O2 ke seluruh jaringan.
3)       Ukur tanda-tanda vital
       Rasional : Peningkatan tanda-tanda vital dapat menjadi acuan adanya peningkatan nyeri.
4)       Penatalaksanaan pemberian analgetik
       Rasional : Analgetik dapat memblok rangsangan nyeri sehingga dapat nyeri tidak dipersepsikan.
IMPLEMENTASI :
Memberikan posisi yang nyaman, mengejarkan tekhnik relaksasi, mengukur TD, S, N, RR, memberikan obat cetorolac 5 mg 2x1sehari.
EVALUASI :
S : pasien mengatakan masih nyeri
O : pasien terlihat kesakitan
    P : ca mammae
Q : seperti di tusuk-tusuk
R : payudara sebelah kiri
S : skala nyeri 6
T: hilang timbul, selama  5 menit
TD  :110/ 90 mmHg, N : 82 kali/ menit,  RR  : 24 kali/ menit,  S : 36,4O C,
A : masalah keperawatan nyeri akut belum teratasi
P : lanjutkan intervensi
1.     Beri posisi yang menyenangkan
2.     Anjurkan teknik relaksasi napas dalam
3.     Ukur tanda-tanda vital
4.     Penatalaksanaan pemberian analgetik
DIAGNOSA 2
Kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia ditandai dengan dengan makan habis 1/3 porsi dari diit RS, mukosa bibir kering, pasien lemah, mual – mual, berat badan turun dari 45 menjadi 35 kg, Hb 9,1 gr/dl.
TUJUAN :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan Masalah keperawatan Kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, nutrisi terpenuhi.
Kriteria Hasil :
1)      Nafsu makan meningkat
2)      Klien tidak lemah
3)      Hb normal (12 – 14 gr/dl)
             INTERVENSI
1)  Anjurkan klien untuk makan dalam porsi kecil tapi sering
Rasional : dapat mengurangi rasa kebosanan dan memenuhi kebutuhan nutrisi sedikit demi sedikit
2)  Anjurkan klien untuk menjaga kebersihan mulut dan gigi.
Rasional : agar menambah nafsu makan pada waktu makan.
3)  Anjurkan untuk banyak makan sayuran yang berwarna hijau.
Rasional : sayuran yang berwarna hijau banyak mengandung zat besi penambah tenaga.
4)  Libatkan keluarga dalam pemenuhan nutrisi klien
Rasional : partisipasi keluarga dpat meningkatkan asupan nutrisi untuk kebutuhan energi.
                 5) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antasida dan nutrisi                 parenteral.
    Rasional: antasida mengurangi rasa mual dan muntah.
IMPLEMENTASI
Menganjurkan klien untuk menjaga kebersihan mulut dan gigi, menganjurkan untuk makan sedikit tapi sering, kolaborasi denag dokter dakam pemberian antasida 500 g 2x1 sehari.
EVALUASI :
S : Pasien mengatakan nafsu makan masih turun
O : Makan habis 1/2 porsi dari diit RS, Mukosa bibir kering, pasien lemah, mual– mual, berat badab turun dari 45 menjadi 35 kg, Hb 9,1 gr/dl, TD  :110/ 90 mmHg,  N: 82 kali/ menit, RR  : 24 kali/ menit, S: 36,4O C
A : masalah keperawatan Kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh belum teratasi.
P : lanjutkan intervensi
1.      Anjurkan klien untuk makan dalam porsi kecil tapi sering
2.      Anjurkan klien untuk menjaga kebersihan mulut dan gigi.
3.      Anjurkan untuk banyak makan sayuran yang berwarna hijau.
4.      Libatkan keluarga dalam pemenuhan nutrisi klien
5.      Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antasida dan nutrisi                 parenteral.





DIAGNOSA 3
Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan radiasi sinar X di tandai dengan Terdapat lesi di payudara sebelah kiri, terlihat kemerahan, kulit mengelupas dan keriput.
TUJUAN
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan masalah keperawatan kerusakan integritas kulit teratasi.
Kriteria hasil:
1.     Temperatur jaringan  tubuh sesuai yang di harapkan
2.     Sensasi kulit sesuai yang diharapkan
3.     Hidrasi kulit sesuai yang diharapkan
4.     Bebas dari lesi jaringan
5.     Pertumbuhan rambut pada kulit
INTERVENSI
1)     Hindari kerutan pada tempat tidur
Rasional :menjaga timbulnya lesi baru
2)     Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering
Rasional : menghindari dari infeksi
3)     Monitor kulit akan adanya kemerahan
Rasional : untuk mengetahui adanya tanda iritasi yang melebar
4)     Mobilisasi fisik
Rasional: membantu untuk sirkulasi udara supatatidak lembab.
IMPLEMENTASI
Mengindari kerutan pada tempat tidur, menjaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering, memonitor kulit akan adanya kemerahan,  memobilisasi fisik.
EVALUASI :
S : -
O : Terdapat lesi di payudara sebelah kiri, terlihat kemerahan, kulit    mengelupas dan keriput.

A : Masalah keperawatan gangguann integritas kulit belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
1.     Hindari kerutan pada tempat tidur
2.     Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering
3.     Monitor kulit akan adanya kemerahan
4.     Mobilisasi fisik

























 
BAB IV
PEMBAHASAN

A.    Pengkajian
Didalam tinjauan teori terdapat  pengkajian riwayat kesehatan, keluhan utama yang sering dirasakan pada penderita kanker payudara adalah  pada fase awal kanker payudara asimptomatik (tanpa ada tanda dan gejala). Tanda awal yang paling umum terjadi adalah adanya benjolan atau penebalan pada payudara. Kebanyakan  90 % ditemukan oleh wanita itu sendiri, akan tetapi di temukan secra kebetulan, tidak dengan menggunakan pemeriksaan payudara sendiri (sarari), karena itu yayasan kanker menekankan pentingnya melakukan sarari.
Tanda dan gejal lanjut dari kanker payudara  meliputi kulit sekung (lesung), retraksi atau deviasi putting susu, dan nyeri, nyeri tekan atau  rabas khususnya berdarah, dari putting.
Gejala lain yang ditemukan yaitu konsistensi payudara yang keras dan padat, benjolan tersebut berbatas tegas dengan ukuran kurang dari 5 cm, biasanya dalam stadium ini belum ada penyebaran sel-sel kanker di luar payudara. (Erik T, 2005, hal : 42). Pada pengkajian juga di temukan keluhan dan tanda gelaja sesuai teori, tetapi belum sampai ke gejala lanjut yang dapat mengeluarkan darah dari puting payudara.
B.    Diagnosa Keperawatan
1.     Diagnosa keperawatan yang ditemukan pada kasus nyata yang sesuai dengan teori, yaitu :
a)     Nyeri kronis  berhubungan dengan agen injuri biologis
b)     Kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia
c)     Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan radiasi sinar X

2. Diagnosa keperawatan yang tidak ditemukan pada kasus nyata tetapi ada di   konsep teori, yaitu:
a.      Cemas berhubungan dengan radiasi sinar X
b.      Kurang pengetahuan berhungan dengan kurangnya kemauan untuk mencari informasi
c.      Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif
       3. Diagnosa keperawatan yang ditemukan pada kasus nyata tetapi tidak ada di konsep teori ( diagnose temuan )
            Tidak ditemukan daignosa temuan baru, diagnosa yang diambil sesuai dengan konsep teori yang ada.





















 
BAB V
PENUTUP

A.    KEKUATAN
1.   Selama pengelolaan kasus pasien kooperatif dengan tindakan keperawatan yang diberikan
2.   Pemeriksaan penunjang seperti laboratorium yang terdapat di RS sangat membantu untuk mengetahui adanya gangguan lain pada pasien
B.    KELEMAHAN
1.   Kelemahan selama pengelolaan kasus yaitu kurangnya buku – buku referensi mengenai ca mammae
2.   Pengelolaan kasus di luar intervensi, misal : Pasien pulang atas permintaan sendiri sebelum waktu pengelolaan kasus selesai.
3.   Minimnya kesadaran perawat tentang APD.
C.    SARAN
1.   Rumah Sakit
Memberikan informasi tentang penyakit dan penanganannya, karena jika hal ini ditinggalkan bisa menimbulkan kurang pengetahuan pada keluarga pasien.
2.   Perawat
Peningkatan wawasan dan pengetahuan masing – masing perawat dalam pemberian asuhan keperawatan yang tepat, cepat dan akurat, Serta selalu meningkatkan system atau mutu pelayanan dengan mengembangkan pola 3 S yaitu senyum sapa salam.
3.   Teman sejawat dan profesi
Untuk lebih meningkatkan dan menambah wawasan mengenai ca mammae, perlu memperhatikan kondisi pasien yang sebenar – benarnya sehingga dapat memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas.




 
DAFTAR PUSTAKA


Doengoes, Marylin E., 1989, Nursing Care Plans, USA Philadelphia: F.A Davis Company.

Gale, Daniele, 1996, Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi, Jakarta: Penerbit Buku Kedoteran EGC.

Junadi, Purnawan, 1982, Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta: Media aesculapius Universitas Indonesia